Menjadi Insan Mulia di Tengah Kesibukan

Berapa banyak orang yang menggelengkan kepala ketika mengucap laailahaillallah, tapi hatinya tidak meniadakan ilah selain Allah. Berapa banyak yang mengucap subhanallah, menyucikan Allah dari segala persangkaan, tapi disaat yang sama mempertanyakan keadilan Allah.

Di zaman fitnah nanti, banyak orang yang Ibadahnya saja untuk dunia. Kalau para salafus shalih kerjanya saja untuk akhirat, maka di zaman fitnah, akan banyak orang yang ibadahnya saja bahkan untuk dunia.

Tetapi di luar itu kita perlu merenungi, kita perlu berfikir. Kita perlu mengenali bahwa setiap amal itu ada ghurur nya. Apakah ghurur itu? ghurur itu adalah terkelabui. Maksudnya terkelabui itu apa? Kita menyangka sedang menambah kebaikan, tetapi sesungguhnya tidak. Nah, inilah yang juga perlu kita pahami, perlu kita pelajari, agar kita tidak tergelincir di dalamnya.

Dalam segala urusan, ghurur itu ada. Dalam dzikir ada ghururnya. Orang terlalu asyik dzikir sampai lupa keluarganya, maka ini termasuk orang-orang yang tergelincir dalam ghurur.

Dalam shalawat ada ghururnya, dalam membangun masjid pun ada ghururnya. Jika orang berlomba-lomba memegahkan masjid melebihi kebutuhannya, mengindah-indahkan masjid melebihi peruntukannya sehingga dana yang seharusnya dapat digunakan untuk yang lain, tersisihkan hanya untuk mengindah-indahkan itu.

Maka kelak suatu saat kita akan mendapati masjid-masjid yang megah namun kosong dari hidayah, dan tampaknya ini sudah mulai ada. Diantara tanda-tanda kiamat itu adalah orang berlomba-lomba memegah-megahkan masjid. Masjidnya ramai tapi kosong dari hidayah. Bahkan ada yang masjid itu yang tidak ramai sama sekali, padahal masjidnya sangat megah.

Juga yang lain adalah, menjelang kiamat itu, mendekati kiamat itu, diantara tanda-tanda kecilnya atau tanda-tanda yang sudah agak besar adalah orang berlomba-lomba mengindah-indahkan, mempercantik mushafnya.

Saya tertegun ketika 2 tahun lalu saya ke Islamic Book Fair di Jakarta. Tidak kuasa saya menahan air mata ketika saya melihat deretan orang-orang menjual mushaf al-Qur’an, dan pada saat saya menghampiri, tersentaklah saya. Rupanya alamatussa’ah (tanda-tanda datangnya saat yang dijanjikan) itu semakin banyak, semakin tercukupi, semakin lengkap.

Hari ini berapa banyak percetakan yang sibuk berlomba-lomba mengindah-indahkan mushaf, tetapi tidak disertai dengan kesungguhan untuk memahaminya. Jangan-jangan ini juga adalah tanda yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud RA juga, yakni diantara tanda zaman fitnah itu adalah: “wa katsurat qurra’ukum, wa qallat fuqaha’ukum”. Banyak sekali orang-orang yang menghafal al-Qur’an diantara kalian—qurra‘ itu artinya penghafal Qur’an, orang-orang yang membaca dengan penuh semangat, tapi sedikit sekali fuqaha-fuqaha kalian yakni orang yang sungguh-sungguh memahami al-Qur’an ini dan agama ini.

Mudah-mudahan apa-apa yang kita dapati sekarang ini belumlah tanda kesana. Tapi rasa-rasanya kita melihat bahwa apa-apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud RA itu semakin lengkap saja. Hari ini banyak orang yang berlomba-lomba menghafal tetapi rasa-rasanya masih jauh dari berusaha untuk mencerna, mengkaji kandungan al-Qur’an. Maka jika kita tidak ingin termasuk di dalamnya, hendaklah kita bertanya, hendaklah kita membenahi diri kita.

Ketika orang berlomba-lomba menghafalkan itu, maka kita perlu bertanya, “Kalau saya mengikutinya, kira-kira langkah ini sudah tepat ataukah ada yang harus disiapkan terlebih dahulu?”

Jika kita melihat nasihat dari Jundub Ibn Abdullah RA, beliau pernah menegur generasi Tabi’in. Dan kita ingat bahwa Tabi’in itu adalah satu dari tiga generasi terbaik: Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Nah, Jundub Ibn Adbullah RA menegur generasi Tabi’in karena mereka mempelajari al-Qur’an sebelum belajar iman. Maksud saya adalah, bukan berarti kalau kita sekarang sudah bersemangat untuk menghafalkan lalu berhenti, bukan. Tetapi kita perlu mengingati bahwa ada yang harus kita bekali dalam diri kita, yaitu belajar tentang iman.

Jika tidak, maka saya khawatir kita justru tergelincir kepada apa yang dikhawatikan oleh Rasulullah SAW, yakni menjadi bagian dari orang-orang munafik yang ‘alim lisannya, yakni menjadi bagian dari orang-orang munafik yang lisannya hafal al-Qur’an dan itu menjelang akhir zaman akan semakin banyak. Wallahu a’lam bisshawab.

Saudara-saudara mari kita ingat sejenak. Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita kerjakan ini, apapun yang kita perbuat, maka yang harus paling kita harapkan adalah barakah. Termasuk majelis-majelis kita. Jika kehilangan barakah, maka yang ada hanyalah gegap gempita tetapi tidak menyisakan kecuali hanya kesenangan semata saja.

Apakah barakah itu? barakah itu adalah kebaikan yang sangat banyak. Apakah barakah itu? barakah itu adalah kebaikan yang bertambah-tambah. Barakah itu sendiri bertingkat-tingkat. Insya Allah saudara kita Salim A. Fillah sedang merampungkan buku “Lapis-lapis keberkahan”. ini sekedar gambaran, mudah-mudahan jika bukunya terbit anda bisa mempelajari bahwa barakah itu berlapis-lapis. Barakah itu bertingkat-tingkat.

Saya tidak membahas tentang lapis-lapis kebarakahan, tingkatan-tingkatan kebarakahan, tetapi yang saya ingin ingatkan adalah bahwa yang harus kita cari dalam urusan kita, hidup kita ini adalah barakah. Dan yang paling perlu kita khawatiri adalah hilangnya barakah.

Jika pernikahan tidak barakah, maka semakin bertambah usia pernikahan, maka akan semakin bertambah keburukan meskipun kesenangan tampak menghiasai mereka. Jika anak itu tidak barakah, cerdas mungkin iya, prestasi mungkin bersinar, tetapi kecemerlangannya itu bukan menuju kepada kebaikan dunia akhirat melainkan (kecemerlangannya) itu justru menjadi pintu-pintu keburukan bagi kita orang tuanya maupun bagi mereka (anak-anak kita) untuk akhiratnya kelak.

Jika harta kita barakah, maka bertambahnya akan memudahkan kita, meringankan langkah kita untuk taat kepada Allah SWT. Tetapi jika tidak, maka bertambahnya itu akan semakin merisaukan kita. Bertambahnya harta membuat kita semakin takut kehilangannya, bertambahnya harta justru memudahkan kita menjadi sukht. Apakah sukht itu? sukht itu mirip dengan bakhil, pelit, kikir.

Sukht itu pelit tetapi bentuknya agak berbeda. Begini, kalau bakhil itu orangnya cenderung sedapat mungkin (berusaha) bagaimana uangnya, hartanya tidak berkurang sama sekali. Tapi kalau sukht, maka yang dilakukan berbeda, yakni ia akan mau keluarkan hartanya sedikit atau banyak, jika kiranya bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Inilah sukht.

Tiga perkara yang Rasululllah SAW ingatkan kepada kita, tiga perkara yang membinasakan: yang pertama adalah hawa nafsu yang diikuti, yang kedua adalah sukht yang ditaati, dan yang ketiga adalah membangga-banggakan diri alias ‘ujub.

Kembali lagi kepada barakah tadi. Jika harta kehilangan barakah, sedikitnya menggelisahkan, banyaknya juga menggelisahkan. Jika harta itu tidak barakah, sedikitnya menimbulkan penderitaan, menimbulkan kerisauan. Sementara banyaknya membuat dia semakin kokoh memegangi hartanya dan semakin berat langkahnya kepada ketaatan kepada Allah SWT.

Mungkin saja dengan uang yang banyak itu mereka akan sering berhaji, haji kecil atau umrah. Nah, tetapi mereka ini berputar-putar mengelilingi ka’bah seraya menangis sementara ketika mereka pulang hatinya kembali hampa jiwanya kembali gersang. Kosong dari pahala, kosong dari kebaikan.

Saya menulis tentang “Berhaji Tanpa Pahala”, bisa dicek di facebook saya. Di akhir zaman akan semakin banyak orang yang berhaji tanpa pahala. Di saat itu orang akan dimudahkan untuk pergi kesana, dan saya bertanya-tanya “inikah saatnya?” Kira-kira 2 tahun terakhir ini kalau saya ke bandara, hampir selalu ketemu orang-orang yang sedang berangkat umroh atau sudah pulang dari umroh.

Maka marilah kita bertanya, kira-kira langkah-langkah kita ini, urusan-urusan kita ini, termasuk dalam tindakan-tindakan kita mengumpulkan harta ini apakah itu akan membawa kita kepada barakah ataukah justru menjauhkannya.

Diantara hal-hal yang mempengaruhi barakah tidaknya rizki kita adalah masalah niat. Yang haram pasti tidaklah barakah, tapi yang halal belum tentu barakah. Maka, kita perlu bertanya lebih jauh, kalau yang halal belum tentu barakah, apakah yang perlu kita benahi? Salah satunya adalah niat kita dalam bekerja.

Jika kita bekerja itu hanya untuk mencari dunia, maka meskipun pendapatannya sama, perolehannya sama, niat yang pertama ini hanya untuk mencari dunia tidak mendatangkan keberkahan. Sementara niat yang semisal, sederhana saja untuk sungguh-sungguh mencari nafkah agar terbebaslah keluarga dari kemungkinan berkekurangan (sehingga lemahlah iman mereka) maka bekerja untuk alasan mencari nafkah ini akan mendatangkan kebarakahan. Tapi, kebarakahan yang lebih besar akan Allah Ta’ala berikan kepada kita jika niat kita lebih mulia lagi, jika niat kita lebih baik lagi di atas itu. Maka, kita perlu belajar mendidik niat.

Fudhail Bin Iyadh RA mengingatkan bahwa tidak ada urusan yang lebih sulit dibanding menata niat. Maka mendidik niat ini perlu kita lakukan dengan sungguh-sungguh agar barakah dalam segala urusan kita semakin hari akan semakin baik. Sebaliknya, karena salah niat, shadaqah pun bisa mengantarkan kita kepada neraka. Mari kita ingat, dalam hadits riwayat Muslim dalam bab Jihad ada tiga golongan yang pertama kali masuk neraka.

  1. Orang yang berjihad di jalan Allah SWT
    Yang dilakukan sudah luar biasa, jihad fii sabilillah tetapi niatnya bukan karena Allah, bukan lillahi ta’ala, melainkan agar disebut sebagai pemberani. Bayangkan, karena niat yang salah maka justru mujahid ini menjadi orang yang pertama kali masuk neraka. Naudzubillahi min dzalik
  2. Ahli sedekah tetapi sedekahnya bukan karena Allah SWT
    Sedekah itu merupakan suatu kemuliaan yang sangat besar, tetapi ketika niatnya tidak ikhlas karena Allah Ta’ala, maka dia justru menjadi orang yang awal masuk neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Maka mendidik niat, berusaha menata, bersungguh-sungguhlah membersihkannya. Mungkin hari ini kita belum bisa ikhlas, tetapi jika kita memiliki kesungguhan untuk menata niat kita, dan tidak meremehkan niat kita, maka kesungguhan kita membenahi itulah yang mudah-mudahan akan menjadi syafaat dari Allah SWT. Sehingga kekurangan-kekurangan kita dan urusan-urusan ibadah kita dan urusan niat-niat kita saat beramal itu akan Allah Ta’ala ampuni.

Akan tetapi bahkan andaikata hari ini kita mengerjakan itu sudah dengan ikhlas, tetapi lalu kita meremehkan niat, meremehkan pentingnya mendidik niat, jangan-jangan itu menjadi sebab Allah Ta’ala tidak ridha dengan amal-amal kita. Sehingga amal kita yang sangat banyak itu tidak bernilai sama sekali.

Maka mari kita ingat kembali, bahwa dalam agama ini yang senantiasa diserukan kepada kita itu adalah ahsanu ‘amala, bukan aktsaru ‘amala. Sebaik-baik amal, bukan sebanyak-banyak amal. Itu bukan berarti kita bermalas-malas melakukan amal, karena bermalas-malas melakukan amal termasuk tanda lemahnya iman kita.

Saya ingin lanjutkan kembali masalah rizki tadi. Niat yang lebih tinggi, niat yang lebih mulia, itu akan membawa kita pada barakah yang lebih besar. Bersungguh-sungguh dalam menata niat, bersungguh-sungguh dalam mendidik niat, maka ini akan mendatangkan kebarakahan yang berlimpah. Lebih barakah lagi, lebih barakah lagi, lebih barakah lagi.

Demikian juga dengan keluarga kita, anak-anak kita. Kita sekolahkan anak kita, apakah sebabnya? Kita pilihkan sekolah anak kita, apakah niatnya? Jika niat kita hanya untuk melepaskan diri dari kepenatan, jika niat kita hanyalah agar kita merdeka. Maka, berharaplah kerepotan-kerepotan itu akan menghadang anda di saat anak anda sudah masuk usia remaja atau dewasa, karena anda masukkan ke (sekolah) itu hanya untuk menghindari kerepotan.

Tetapi jika anda pilihkan sekolah yang baik karena niat yang baik, maka Insya Allah, niatan yang baik itu akan menjad iasbab Allah Ta’ala baguskan, sempurnakan, andaikan kita ini memiliki kekurangan-kekurangan yang sangat banyak dalam mengurusi anak-anak kita.

Bukankah kita telah melihat betapa banyak orang-orang yang biasa-biasa saja, dari keluarga yang kalau kita lihat berpendidikan juga tidak, ibadahnya kencang juga tidak, tapi anak-anaknya menjadi anak-anak yang baik. Sebaliknya, kita juga dapati betapa banyak yang bapaknya itu ahli ibadah, orang melihat sekilas ahli kebaikan, tetapi anaknya jauh dari kebaikan.

Maka marilah kita kembali menengok niat kita, termasuk niat kita dalam menghadiri majelis ini. Apakah niat kita untuk berbenah, atau sekedar hanya untuk berjumpa dan mungkin nanti minta tanda tangan? Boleh lah minta tanda tangan, tapi bukan itu, bukan itu. Ketika kita mengatakan berniat sungguh-sungguh, itu tidaklah dikatakan kesungguhan niat, kecuali kita mengikutinya dengan tindakan.

Sebelum saya membahas tentang tindakan, tentang niat, ada orang yang mendapatkan pahala sangat besar sebanyak orang yang melakukannya. Kalau dia sekedar berniat sekilas saja, niat baik berpahala, niat buruk tidak berdosa. Tetapi kalau niatnya sungguh-sungguh (shiddiqun niah) maka jika dia berniat melakukan kebaikan, melihat seorang ahli ibadah, melihat seorang kaya yang suka berderma, lalu kita berkeinginan sangat kuat “Ya Allah, kalau engkau beri aku kekayaan seperti dia, aku ingin sekali berbuat sebagaimana yang dia perbuat. Maka bahkan seandainya kita itu tidak sanggup melakukanny,a karena memang Allah SWT tidak kuasakan harta kepada kita, kita dapat pahala sebanyak yang diberikan kepada orang yang ingin sekali kita menirunya itu.

Tetapi sebaliknya, kita berjalan-jalan di Bandung mungkin di Dago atau dimana, melihat orang menenteng minuman khamr yang berharga mahal dan kita meniatkan dengan sangat kuat “Coba saya punya, saya ingin sekali melakukan itu” dan kita memang betul-betul terobsesi untuk melakukannya suatu saat, maka (walaupun) kita tidak turut berbuat, kita akan mendapatkan dosa sebagaimana diberikan kepada pelaku kemaksiatan itu. Inilah yang disebut sebagai Shiddiqun niah. Jadi jangan main-main dengan niat anda yang nampaknya buruk, hanya karena anda merasa bahwa “niat buruk ngga berdosa”, karena niat buruk yang tidak berdosa itu, kalau itu baru niat yang selintas saja dan niat yang tidak begitu kuat. Tetapi jika itu sudah menjadi Shiddiqun niah, maka dosa yang kita dapatkan sebanyak dosa orang yang memperbuatnya. Naudzubillahi min dzalik.

Nah, dari sini saya ingin kembali pada pembahasan awal tadi, bahwa niat itu memang memperngaruhi kebarakahan, Ttetapi kita mengatakan dengan sungguh-sungguh niat kita tidak lah mencukupi, akan dilihat dari kesungguhan kita di dalam mengamalkannya.

Saya tidak berbicara tentang amal-amal semisal shalat, tapi masih kaitannya dengan rezeki, andai anda bekerja asal-asalan, dengan bekerja yang sungguh-sungguh (all out) maka anda bekerja dengan sungguh-sungguh itu akan menyebabkan gugurnya dosa-dosa.

Ada dosa-dosa yang tidak bisa dihapus dengan istighfar, dan tidak terhapus oleh shalat kita, tetapi hanya terhapus oleh letihnya bekerja. Pertanyaannya adalah “Sejauh ini bagaimanakah kita melakukan pekerjaan-pekerjaan kita? Apakah kita sudah melakukannya dengan penuh kesungguhan atau tidak?”

Jika kita tidak melakukannya dengan penuh kesungguhan, maka boleh jadi itulah sebabnya kita dapat rezeki kayaknya banyak tapi ngga ada wujudnya, kita mendapatkan rezeki nampaknya banyak tapi ngga membawa keberkahan.

Nah, saudara-saudara kembali lagi pada perbincangan kita. Apa yang harus kita cari dalam hidup ini? Apa yang harus kita harapkan dalam hidup ini? Yang harus kita cari dalam segala urusan adalah barakah. Barakah dalam segala hal, barakah umur kita, barakah hidup kita. Orang yang umurnya barakah maka dengan waktu sedikit dia dapat berbuat banyak hal, bukan semata-mata karena kemampuanya melakukan manajemen waktu.

Mari kita ingat semisal Ibnu Katsir. Waktu itu belu mada laptop, belum ada Ipad, belu mada PC, belum ada fasilitas-fasilitas yang memudahkan. Pulpen pun belum ada yang sebaik pulpen ini. Ketika itu nulis harus dicelup (tinta) dan beliau itu bukanlah seorang penulis, dalam arti bukanlah orang yang mengkhususukan hidupnya hanya untuk menulis. Banyak sekali yang diurus dalam hidupnya, tetapi di sela-sela waktu itu beliau dapat menulis kitab yang masya Allah tebalnya.

Tengoklah misalnya al-Bidayah wa Nihayah, yang begitu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi 22 jilid tebal. Tengoklah misalnya Tafsir Ibnu Katsir, belum lagi kalau kita mengingat bahwa ada kitab-kitab yang jauh lebih tebal yang itu juga ditulis oleh orang-orang yang sangat sibuk.

Ada Tarikh ad-Dimasqy, sebanyak 80 jilid, dan tiap jilidnya 1.000 halaman. Saya bertanya kepada penerbit Pro-U Media, kira-kira tertarik ngga nerbitkan terjemahnya? Pertanyaannya adalah, siapakah yang sanggup menerjenmahkan dalam waktu cepat? Nah ini 1.000 halaman kali 80, yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira akan membengkak 4-5 kali lipat. Itu ditulis oleh orang yang sangat sibuk, bukan pakai Ipad, tidak pakai maktabah syamilah, tidak pakai google, tiak pakai PC, hanya pakai pena yang dicelup saja. Kenapa ini bisa terjadi? Salah satunya adalah karena umur yang barakah

Maka mari kita berusaha menjadikan segala urusan kita urusan yang mendatangkan barakah. Maka mari kita jadikan segala tindakan kita, tindakan yang mendekatkan pada barakah. Jika anak-anak kita barakah, kebaikannya akan berlimpah, tetapi jika tidak barakah maka jikapun ada kebaikan , itu adalah kebaikan sisa-sisa.

Sekolah yang barakah akan menghasilkan orang-orang yang berbudi luhur, yang baik, yang bersungguh-sungguh dengan agama ini. Tetapi jika pendidikan itu tidak barakah, sekolah tidak barakah, mungkin masih ada kebaikannya, anak-anaknya berprestasi, menjuarai lomba ini-itu, tetapi kebaikan lainnya tidak ada.

Terakhir, sebelum kita tanya jawab, ini kan ada hubungannya dengan ketenangan, lalu apakah yang dapat kita perbuat untuk memperoleh ketenangan? Saya ingin menutup dengan kalimat ringkas saja “Sesungguhnya tenangnya hati itu dengan berdzikir”, dan tadi kita sudah membahas dan kita perlu bertanya, sudah berdzikirkah kita? atau hanya mengucap wirid saja. Sedangkan tenangnya jiwa itu dengan ridha, dan tidaklah mungkin kita ridha kepada Qada’ dan Qadar Allah SWT, kecuali yakin bahwa atas segala takdirnya Allah SWT Mahabijaksana